Tuesday, June 10, 2014

Kenapa Aku ?




Aku merenung
Hanya mampu menggerutu dan terpaku
“Sudah lamaku tapaki jalan ini” Bisikku
Lalu Aku diam . . .

          Seolah memimpikan bulan
          Padahal, mentari membakarku perlahan
          Seolah tak senang dengan keadaan malam
          Dimana Ia hanyalah sebuah biasan

Aku berjalan
Pelan, letih, tertahan
Seolah ditarik sang bayangan
“Jangan bawa Aku, Aku enggan!” Pekiknya
Aku hanya tertawa kecil
“Haha, ini tak mungkin” Ujarku masa bodoh

          Ku coba berlari
          Namun lagi-lagi Aku berhenti
          Aku menatap sebuah jasad mati
          Tersenyum, berdiri, menanti
          “Namun, kenapa Ia disini ?” Tanyaku
          Seolah Aku dilarang melayang pergi
          “Kenapa Aku?” Pekikku
          Apa tak habis panas yang Kau tampakkan ?
          Takkah Kau lihat bahwa itu membutakan ?
          Apa akan terus Kau lanjutkan rintih awan ?
          Tak sadarkah Kau, Aku terbawa perlahan ?
          Apa akan Kau lanjutkan semua penderitaaan ?
          Tak jelaskah bahwa Aku hanya sebuah mainan ?
          “Kenapa ? Kenapa Aku ?!?!” Pekikku

Aku coba mengaca
Pada sekawah hujan buatan Tuhan
Dengan 5 jari-Nya
Sepertinya sama dan tetap sepadan
Hanya saja Aku memuntahkan pekikan
Dan kalian semua mendengarkan
Aku terus mencoba bertahan
Dalam segala bentuk kecam & cacian
Aku hanya coba melukis senyuman
Padahal yang ada hanyalah yang Kau gantungkan
Sekelebat beban yang tak tergambarkan

Tapi, kenapa Aku dan 5 jariku ?!?!

Gagak Hitam

Well, mengingat masih santer dibicarakannya event debat capres dan cawapres kemarin. Saya selaku bangsa indonesiai ngin menyampaikan sedikit aspirasi *apasih*. ini sedikit biasan apa yang saya rasakan bada pemimpin di era zaman ini, mungkin tidak terlalu banyak membantu. tapi, setidaknya saya menjalankan hak saya untuk bersuara *pensive*
Check this Out !

Monday, June 9, 2014

Titik Titik Titik


. . .
Bukan sembarang titik
Atau perkataan menggelitik
Kalaupun bisu memekik
Atau teriak dalam terpekik

          . . .
          Mungkin Kau tidak sadar
          Bahwa nyawamu terbakar
          Walau badan terlihat kekar
          Percuma jika Kau tak tertampar

. . .
. . .
Bukan Aku yang mampu melayang
Ataupun Dia yang mampu terbang
Aku hanya raga terdiri tulang
Dan juga nafas yang mampu hilang
Aku hanya hati berisi lubang
Dan juga fikiran yang belang-belang
Kau terlihat senang
Walau urat terlihat meregang
Kau seakan tenang
Walau hati telah tak terang
. . .

          Isi diri bukan setitik
          Dalam hidup tak selalu terpekik
          Setengah jalan akan menggelitik
          Karena hidup seperti . (Titik)

KAYU PUTIH

Aku tertidur
Sangat dalam
Sangat lelah
Lemah tak berdaya

          Dijurang itu Aku ingat
          Ya, sebuah memori indah
          Yang coba Ku benarkan

Nyanyiannya nyata
Wujudnya terlebih
Namun, maknanya ambigu

          Ia mendongeng tenang,sabar, dan tenar
          Ia mengelus lembut, tenang, sabar
          Ia tertidur nyenyak, lembut, tenang

Aku senang akan hal itu
Namun, Aku marah
Aku benci semua itu
Tapi, Aku bahagia

          “Dulu, kita semua tinggal di Surga” Katanya
          “Semua ada, tinggal minta, semua ada, katakana!” Serunya
          Aku akui itu membuatku kagum, dulu
          Tapi Aku benci, sekarang

Yang kulihat berbeda
Yang kudengar tak sama
Yang kuraba lain
Yang kubaca tercoreng

          Aku lihat Dia menangis
          Aku kesal atas kebenarannya
          Karena, semua berubah
          Setelah Negara api dan noda dunia menyerang
          Mereka membakar segalanya
          Mereka mendoakan cinta putih itu

“Tolong, tolong” Pekiknya
Aku menangis, Aku kabur
Aku diam, bersembunyi
A,a,Aku tak dapat melakukannya
Bagaimana mungkin kayu bakar itu kuutuhkan ?
Aku memutihkan nada asapnya ?
Menyambung patahannya ?
Atau
Tidak, tidaaak !!

          Memang dulu kita surge
          Namun, sekarang kita neraka
          Dulu kita kayu putih
          Namun, sekarang kayu bakar legam !

Tak banyak yang dapat kulakukan
Sendiri ? Tidak !!
Kalian airnya ! Kalian Malaikatnya !
Bantu aku temukan kayu putih kita !

Tuk para tunas surge tanah neraka kita kelak .