Thursday, July 10, 2014


Dewi Bulan


Aku merenung tak henti
Demi bertatap sendiri mati, mengintip rintik titik mentari
Yang kudapati bukan senyuman
Yang kudapati bukan senyuman

                Aku merenung takkan berhenti
                Demi mengais pelita dewi, sang dewi malam-malam sunyi
                Yang kurasakan bukan penyesalan
                Yang kurasakan bukan penyesalan

Aku memanjat tinggi ke langit
Demi menggapai asa sejati, sesejati malam yang takkan pernah mati
Secerah senyum sang kilasan mentari
Yang kudapati bukan potret diri
Tapi, hanya senyum mati sang gulita hati

                Aku memanjat sekali lagi
                Demi menunggu sang bintang jatuh, tuk menangkap permohonannya
                Ia saja menghilang, tanpa jejak, tanpa arah
                Yang kurasakan bukan kesenangan hati
                Tapi, aku tak dibiarkan bermimpi

Demi senyum sang dewi malam, sang dewi bulan
Aku menatap indah bulan, senyum menawan
Andai sang bintang dapat mendekat, ingin kusampaikan salam padanya
“Aku mencintai senyumannya” pungkasku

Monday, July 7, 2014


Sama Satu

Dulu
Sang bata mengikis merah
Murah meriah tetes darah
Jatuh sekutu membeku

          Dahulu
          Sang patriot murka
          Pecahkan gendang neraka
          Pilukan telinga-telinga
          Nadanya, jelas Hina !

Disanalah tertata
Mematri nyata
Indah perkasa

          Lidahmu terbata
          Malammu mengarah sana
          Mulutmu berbahasa saja !

Sssttt !!! Tuhan mengocehmu !
Dia satu, tak ada dua atau tiga
Berhenti menerka ! Dasar kau pembual nama !
Manusia-manusia saja berbohong dan berzina
Dimana letak tuhan yang bernama itu ?!!
Kau mengesakan-Nya
Tapi kau memecah hakikatnya !
Tak ada satu, tapi dua atau tiga !
Kau tak bisa sendiri, benar !
Kau butuh mereka dan bersatu sama
Menerka dan janjikan kata buta !
Agar jadi satu sama !
Bentuknya tak pasti seporsi
Bisa saja dua, tiga, dan seterusnya
Tapi kita telah sepakat nyata
Bahwa kau terima apa adanya

          Kita Kristal surga
          Tak bergeming di atasnya
          Yakini bahwa semuanya nyata!
          Karena atas janji kita dan tuhan dewa
          Zaman menghilang
          Zaman mendatang
          Tuhan satu dan ada
          Kita satu juga sama 

Apa itu Kita ?

Kita bersama
Telah cukup lama
Kita berdua
Melayang gabungkan asa

          Seribu tawa telah ada
          Sejuta tangis terbelah dua
          Aku membangun dan menata
          Kau terbangun terus menyapa

Hari berdua telah tertata
Dari tangga-tangga hingga kacamata
Darah memang tak mungkin sama
Namun asa kita senada

          Namun, mengapa engkau berdusta ?
          Setelah asa kita melalang buana ?
          Tapi, kenapa engkau membaca ?
          Di saat kami belajar tuk buta ?
          Apa yang kau inginkan wahai saudara ?
          Sederet harta atau nama ?
Sekelebat kata atau cinta ?
Sebentuk tata atau apa !!

Kau boleh mendua atau apa saja
Kau boleh membuana atau lemah terasa
Tapi, aku kan selalu berada
Walau kau melenggang nyata
Dan menarik nada-nada sukma
Tak apa
Kau saudara dalam kata
Dan tak selamanya ada
Aku mungkin berdosa
Tapi ya, biasa saja 

Satu Balok Nada

Do Re Mi
Dimulai dari Do dan di akhiri Mi
Dibarengi Re yang tak akan sendiri

          Fa Sol La
          Perantara Sol terjepit Fa dan La
          Tawa-tawa nada La Sol Fa
          Naik Turun di tengah tangga

Si Do
Tengah berdiri menopang tawa
Tak hadir si nada perantara
Bersama ada selalu berdua
Walau seisinya hanya nada

          Do Re Mi
          Kadang menangis kadang tertawa
          Walau hanya sederet tangga
          Namun nadanya pewakil rasa

Fa Sol La
Walau hanya nyanyian belaka
Tanyakan pada seisi neraka
Apa kata mereka ?

          Si Do
          Selangkah ada berdua
          Senada ada bersama
          Setawa menangis belaka
          Sesingkat nada okta

Do Re Mi Fa Sol La
Nada mana yang kau suka ?



Malaikat Tanpa Sayap

Awalnya dulu
Kami hanya kami
Bukan cahaya
Apalagi Tuhan (?)

            Kalian datang
            Gerombolan debu
            Ramaikan dosa
            Yang bahkan tak mampu kutanggung

Tuesday, June 10, 2014

Kenapa Aku ?




Aku merenung
Hanya mampu menggerutu dan terpaku
“Sudah lamaku tapaki jalan ini” Bisikku
Lalu Aku diam . . .

          Seolah memimpikan bulan
          Padahal, mentari membakarku perlahan
          Seolah tak senang dengan keadaan malam
          Dimana Ia hanyalah sebuah biasan

Aku berjalan
Pelan, letih, tertahan
Seolah ditarik sang bayangan
“Jangan bawa Aku, Aku enggan!” Pekiknya
Aku hanya tertawa kecil
“Haha, ini tak mungkin” Ujarku masa bodoh

          Ku coba berlari
          Namun lagi-lagi Aku berhenti
          Aku menatap sebuah jasad mati
          Tersenyum, berdiri, menanti
          “Namun, kenapa Ia disini ?” Tanyaku
          Seolah Aku dilarang melayang pergi
          “Kenapa Aku?” Pekikku
          Apa tak habis panas yang Kau tampakkan ?
          Takkah Kau lihat bahwa itu membutakan ?
          Apa akan terus Kau lanjutkan rintih awan ?
          Tak sadarkah Kau, Aku terbawa perlahan ?
          Apa akan Kau lanjutkan semua penderitaaan ?
          Tak jelaskah bahwa Aku hanya sebuah mainan ?
          “Kenapa ? Kenapa Aku ?!?!” Pekikku

Aku coba mengaca
Pada sekawah hujan buatan Tuhan
Dengan 5 jari-Nya
Sepertinya sama dan tetap sepadan
Hanya saja Aku memuntahkan pekikan
Dan kalian semua mendengarkan
Aku terus mencoba bertahan
Dalam segala bentuk kecam & cacian
Aku hanya coba melukis senyuman
Padahal yang ada hanyalah yang Kau gantungkan
Sekelebat beban yang tak tergambarkan

Tapi, kenapa Aku dan 5 jariku ?!?!

Gagak Hitam

Well, mengingat masih santer dibicarakannya event debat capres dan cawapres kemarin. Saya selaku bangsa indonesiai ngin menyampaikan sedikit aspirasi *apasih*. ini sedikit biasan apa yang saya rasakan bada pemimpin di era zaman ini, mungkin tidak terlalu banyak membantu. tapi, setidaknya saya menjalankan hak saya untuk bersuara *pensive*
Check this Out !