Malaikat
Tanpa Sayap
Awalnya dulu
Kami hanya kami
Bukan cahaya
Apalagi Tuhan (?)
Kalian datang
Gerombolan debu
Ramaikan dosa
Yang bahkan tak mampu kutanggung
Kalian hanya
membatu
Satu satu bisu
Dua dua buta
Tiga empat tuli
Kami hanya melongo
Tak habis piker
Urat tegangku terpelintir
Syarafku terputus, putus-putus
Lalu yang berlalu
Debu debu menipis
Tangis tawa
terkikis
Akar itu sudah
menjelma ke benalu
Satu satu bisu
Dua dua buta
Tiga empat tuli
Pasti kalian
menerima semua
Celotehan celotehan
dewa
Pekik pekik neraka
Cekikikan nafsu
dunia
Juga senang tawa
kami para tetua
Kami hanya mampu menampar !
Kami hanya bisa mengalasi !
Kami hanya mampu membakar !
Jasad kosong kalian belum berarti !
Ludah kami berteriak !
Keringat kami menangis !
Air mata kami merata !
Setiap lengkung yang mungkin
tergores
Tak habis piker
Urat tegangku
terpelintir
Syarafku terputus,
putus-putus
Mungkin klian tak mengerti
Arti dari caci maki kami
Derap derai air nutfah kami
Dalam seberdiri gubuk derita itu !
Pasti kalian tak menyadari !
Tangis alam yang menggenangi !
Pekik awan yang menyuarai !
Atau robohnya jasad mentari kan ?!
Kami ingin berseru
“ Sama “ dengan kami !!
Lalu yang berlalu
Debu-debu menipis
Tangis tawa
terkikis !
Akar itu menjelma
ke benalu
Pernahkah
kalian mengingat memori itu ?
Tawa
ikhlas kami
Tangis
sendu kami
Senyum
manis kita bersama ?
Mungkin
kami tua
Namun
kami lebih seperti bayi !
Kami
bersalah
Namun
tak ingin mengangguk !
Kami
berdosa
Namun
tak mampu mendoa !
Entah
mengapa senyum kalian itu bahagianya kami
Walau
kalian takkan percaya
Lalu yang berlalu
Debu-debu menipis
Inikah akhir dunia ?
Jika iya, kami senang !
Inikah namanya neraka ?
Jika tidak, tolong katakana dimana
surga !!
Ingat hari ini nak !
Belenggumu lepas
Langkahmu takkan terpapas
Pijaklah pundak kami
Terbang, terbang !
Raihlah jauh citamu
Sampaikan mimpimu pada-Nya !
Jangan lupa neraka ini
Jangan lupa pada kami para
nenek-kakek tua dunia
Selamat
Tinggal “ Malaikat Tanpa Sayap “ Kami …
No comments:
Post a Comment