Aku merenung
Hanya mampu menggerutu dan terpaku
“Sudah lamaku tapaki jalan ini” Bisikku
Lalu Aku diam . . .
Seolah memimpikan
bulan
Padahal,
mentari membakarku perlahan
Seolah tak
senang dengan keadaan malam
Dimana Ia
hanyalah sebuah biasan
Aku berjalan
Pelan, letih, tertahan
Seolah ditarik sang bayangan
“Jangan bawa Aku, Aku enggan!” Pekiknya
Aku hanya tertawa kecil
“Haha, ini tak mungkin” Ujarku masa bodoh
Ku coba
berlari
Namun lagi-lagi
Aku berhenti
Aku menatap
sebuah jasad mati
Tersenyum,
berdiri, menanti
“Namun,
kenapa Ia disini ?” Tanyaku
Seolah Aku
dilarang melayang pergi
“Kenapa
Aku?” Pekikku
Apa tak
habis panas yang Kau tampakkan ?
Takkah Kau
lihat bahwa itu membutakan ?
Apa akan
terus Kau lanjutkan rintih awan ?
Tak sadarkah
Kau, Aku terbawa perlahan ?
Apa akan
Kau lanjutkan semua penderitaaan ?
Tak jelaskah
bahwa Aku hanya sebuah mainan ?
“Kenapa ?
Kenapa Aku ?!?!” Pekikku
Aku coba mengaca
Pada sekawah hujan buatan Tuhan
Dengan 5 jari-Nya
Sepertinya sama dan tetap sepadan
Hanya saja Aku memuntahkan pekikan
Dan kalian semua mendengarkan
Aku terus mencoba bertahan
Dalam segala bentuk kecam & cacian
Aku hanya coba melukis senyuman
Padahal yang ada hanyalah yang Kau gantungkan
Sekelebat beban yang tak tergambarkan
Tapi, kenapa Aku dan 5 jariku ?!?!

No comments:
Post a Comment