Monday, June 9, 2014

KAYU PUTIH

Aku tertidur
Sangat dalam
Sangat lelah
Lemah tak berdaya

          Dijurang itu Aku ingat
          Ya, sebuah memori indah
          Yang coba Ku benarkan

Nyanyiannya nyata
Wujudnya terlebih
Namun, maknanya ambigu

          Ia mendongeng tenang,sabar, dan tenar
          Ia mengelus lembut, tenang, sabar
          Ia tertidur nyenyak, lembut, tenang

Aku senang akan hal itu
Namun, Aku marah
Aku benci semua itu
Tapi, Aku bahagia

          “Dulu, kita semua tinggal di Surga” Katanya
          “Semua ada, tinggal minta, semua ada, katakana!” Serunya
          Aku akui itu membuatku kagum, dulu
          Tapi Aku benci, sekarang

Yang kulihat berbeda
Yang kudengar tak sama
Yang kuraba lain
Yang kubaca tercoreng

          Aku lihat Dia menangis
          Aku kesal atas kebenarannya
          Karena, semua berubah
          Setelah Negara api dan noda dunia menyerang
          Mereka membakar segalanya
          Mereka mendoakan cinta putih itu

“Tolong, tolong” Pekiknya
Aku menangis, Aku kabur
Aku diam, bersembunyi
A,a,Aku tak dapat melakukannya
Bagaimana mungkin kayu bakar itu kuutuhkan ?
Aku memutihkan nada asapnya ?
Menyambung patahannya ?
Atau
Tidak, tidaaak !!

          Memang dulu kita surge
          Namun, sekarang kita neraka
          Dulu kita kayu putih
          Namun, sekarang kayu bakar legam !

Tak banyak yang dapat kulakukan
Sendiri ? Tidak !!
Kalian airnya ! Kalian Malaikatnya !
Bantu aku temukan kayu putih kita !

Tuk para tunas surge tanah neraka kita kelak .


No comments:

Post a Comment