Aku
tertidur
Sangat
dalam
Sangat
lelah
Lemah
tak berdaya
Dijurang itu Aku ingat
Ya, sebuah memori indah
Yang coba Ku benarkan
Nyanyiannya
nyata
Wujudnya
terlebih
Namun,
maknanya ambigu
Ia mendongeng tenang,sabar, dan tenar
Ia mengelus lembut, tenang, sabar
Ia tertidur nyenyak, lembut, tenang
Aku senang
akan hal itu
Namun,
Aku marah
Aku benci
semua itu
Tapi,
Aku bahagia
“Dulu, kita semua tinggal di Surga”
Katanya
“Semua ada, tinggal minta, semua ada, katakana!”
Serunya
Aku akui itu membuatku kagum, dulu
Tapi Aku benci, sekarang
Yang
kulihat berbeda
Yang
kudengar tak sama
Yang
kuraba lain
Yang
kubaca tercoreng
Aku lihat Dia menangis
Aku kesal atas kebenarannya
Karena, semua berubah
Setelah Negara api dan noda dunia
menyerang
Mereka membakar segalanya
Mereka mendoakan cinta putih itu
“Tolong,
tolong” Pekiknya
Aku menangis,
Aku kabur
Aku diam,
bersembunyi
A,a,Aku
tak dapat melakukannya
Bagaimana
mungkin kayu bakar itu kuutuhkan ?
Aku memutihkan
nada asapnya ?
Menyambung
patahannya ?
Atau
Tidak,
tidaaak !!
Memang dulu kita surge
Namun, sekarang kita neraka
Dulu kita kayu putih
Namun, sekarang kayu bakar legam !
Tak
banyak yang dapat kulakukan
Sendiri
? Tidak !!
Kalian
airnya ! Kalian Malaikatnya !
Bantu
aku temukan kayu putih kita !
Tuk para
tunas surge tanah neraka kita kelak .

No comments:
Post a Comment